Disclaimer, “Tidak saya sarankan bagi kawan yang belum pernah merasakan kebersamaannya dengan peliharaan!“
Pernahkah kalian tersadar, bilamana perhatian yang kita beri pada peliharaan yang kita miliki, tidaklah selalu terwujud secara sepihak? Ada kalanya mereka dapat membalas. Percayakah kalian?

Apa yang kita beri selalu mereka terima…. Apa yang kita terima begitu pula selalu mereka beri…… Baik itu berlaku sebaliknya…., sebaliknya…., dan sebaliknya lagi…

Sedianya melalui tutur visual yang hadir dari Bea de Visser. Saya berhadapan dan merayakan dalam kurang lebihnya 11 menit antara mata dengan mata.
Mata saya–pun begitu pula anda–dihadapkan pada sorot mata yang asing untuk kita kenal. Kita tidak pernah bisa memberikan respons atas ketidaktahuan akan sosok tersebut. Namun pernahkah kita sadar, melalui respons akan ketidaktahuan ini, sebenarnya kita kerap abai dalam memaksimalkan masing-masing indra yang kita miliki? Lalu apa hubungannya dengan penceriteraan de Visser?
Indra Terpampang Secara Blak-Blakan
Bagi saya, fragmen demi fragmen film ini, menghadirkan kesan bagi para penonton untuk terfokus akan beberapa hal di antaranya, menonton dan memperhatikan sorotan mata antar mata, mendengar bisik-bisik lirih dengan indra pendengar, serta selebihnya terdapat tiga indra yang tidak mampu kita pertahankan dalam menikmati sajian sinema ini, ialah peraba, pembau, serta pengecap–bayangkan saja, jika tutur visual justru mampu menghadirkan ketiga unsur ini, bukankah justru kita seperlunya was-was?
de Visser memaksimalkan sensori masing-masing gaze dari para hewan atau bahkan mungkin peliharaan, yang dihadirkan se-atap dengan sosok manusia yang tergabung di dalamnya. Dengan keterwakilan inilah, saya merasa keriuhan film ini “makin menjadi” walhabil khusus dalam bagian fragmen yaing makin menjorok pada titik pertengahan film. Seturut dengan hadirnya riuh tersebut, de Visser tidak serta-merta memutus bisikan demi bisikan di awal dengan tanggung. Melainkan ia justru menghadirkan absurditas sesosok manusia yang memancing keramaian dengan bermusik di tengah ketenangan dan kebersamaannya bersama para hewan-hewan tersebut.

Koakan seekor Elang, engahan berliur dari Anjing, serta jejak bergemeretap dari kelinci yang terkadang diam maupun seketika menjadi. Ketiga hewan ini menjadi perwakilan akan sosok-sosok yang mendengar apa yang dilakukan oleh manusia.
Dari sinilah sesaat aku berpikir, bukankah “mereka” justru terkadang lebih lekat kaitannya ketika mendengar suara-suara yang sering kali “kita” ciptakan?

Misal saja–ketika kita beranjak dari kasur dengan kaki yang menjejak lantai. Dengan kaki yang telah menjejak lantai pertama kali, apakah para peliharaan yang kerap kali bersandar serta berada di ujung kasur milik, justru lebih dulu peka akan segala gerak-gerik yang kita miliki?
Dengan pendengaran serta rasa yang mereka, mengenali kehadiran pijakan demi pijakan, antara malas atau semangat, bahkan mereka pun hanya membalas dengan gonggongan, eong-an, atau memajukan kepalanya untuk meminta sebuah elusan. Pun dapat dianggap bahwa seyogyanya respons itu ada.
Sejujurnya saya tidak tahu lagi apa yang dapat disampaikan de Visser dalam perayaan visualnya. Bagi saya, kesamaan kesan performatif memang baru hadir ketika de Visser memainkan peran bagi mata antar mata. Dengan sedikit shot yang mewakilkan sebuah “bird eye,” tentunya bisa kukatakan sah bahwa para hewan juga tidak memandang secara datar-datar saja. Di sisi ini, manusia (de Visser) menampilkan ajang superior manusia di atas para peliharaan.
Ajang performatif-eksperimental setahu saya pernah beberapa kali dialami dengan film besutan mas Is-Beth dengan salah satu judulnya, “Mbah Kancil.”
Dari Mbah Kancil pun, dengan melompong, dan saat ini terbengong saya hanya bisa mendeskripsikan, Pertama, gambar yang menangkap orang terdiam terkurung dalam tubuh renta. Kedua, tari-tarian yang sangat simbolik dengan malaikat penjemput kematian. Ketiga, pertanyaan yang membuat sebagian besar orang yang pertama kali melihat bisa tertegun dan bertanya. “Ini sebenarnya film apa???,” “Untuk apa film ini dibuat?”
Lalu de Visser pun sekarang melengkapi kebodohan saya akan bayangan film yang sejatinya ada. Ya, bagaimana para peliharaanku melihat diriku. Di kala aku bingung, sedih, marah, bahagia, bahkan haru. Apakah mereka merasakan hal yang sama?
Minggir, 26 Tujuh 21
